Kebaikan dan Kejahatan
Kebaikan dan Kejahatan
Oleh : Didi Junaedi HZ
Suatu hari, Wabishah bin Ma’bah, seorang sahabat Nabi, datang untuk
menanyakan hakikat kebaikan dan kejahatan. Nabi SAW bersabda, ”Engkau datang
menanyakan kebaikan?” ”Benar wahai Rasulullah,” jawab Wabishah. ”Tanyailah
hatimu! Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwamu tenang dan hatimu
tentram, sedangkan kejahatan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan hati dan
menyesakkan dada.” (HR Ahmad dan Al-Darimi)
Dari hadis di atas, dapat diambil sebuah pelajaran bahwa setiap bentuk
kebaikan senantiasa akan menenangkan jiwa serta menenteramkan hati. Sedangkan
kejahatan selalu menghadirkan rasa gelisah dan kecemasan dalam hati. Dalam
perspektif ini, hati nurani merupakan cermin diri seseorang. Jika seseorang
tidak menghormati hati nuraninya, berarti ia telah menghancurkan pribadinya
serta merendahkan martabatnya sendiri. Karena, pada hakikatnya dalam diri
manusia ada fitrah untuk selalu berbuat kebaikan dan menolak segala bentuk
kejahatan.
Ironisnya, masyarakat modern dewasa ini sudah mengaburkan kriteria kebaikan
dan kejahatan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilihat, misalnya,
maraknya pornografi dan pornoaksi dianggap suatu hal yang biasa. Dengan dalih
seni serta kebebasan berekspresi, sebagian masyarakat tak lagi mengindahkan
norma sosial, lebih-lebih norma agama. Agama sebagai benteng moral bagi setiap
pemeluknya, di mana ia dapat mengubah suatu kehidupan lalim, amoral dan asusila
menjadi kehidupan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, bermartabat dan
bermoral, yang mengajarkan umatnya hidup berperadaban, sudah tidak lagi dianggap
sebagai sebuah norma yang berisikan seperangkat nilai suci oleh para
pemeluknya.
Pada titik inilah, hati nurani sebagai penentu kebaikan dan kejahatan
mengambil peranannya. Mereka yang senantiasa hidup di atas rel ajaran agama
dengan bimbingan Ilahi senantiasa terbuka mata hatinya, sehingga garis batas
kriteria kebaikan dan kejahatan tampak jelas di hadapannya. Mereka akan
senantiasa merasa tidak nyaman dengan hadirnya tindakan-tindakan yang
merendahkan nilai-nilai kemanusiaan, baik di mata manusia sendiri, lebih-lebih
di mata Tuhan.
Di sisi lain, mereka yang tertutup mata hatinya, akan mengaburkan kriteria
kebaikan dan kejahatan, yang sebenarnya diakui oleh hati nuraninya. Namun,
karena dorongan nafsu semata, mereka rela menutupi mata batinnya dengan tindak
kejahatan yang justru akan merendahkan martabatnya sebagai seorang manusia.
Wallahu a’lam.